Surakarta, 29 Mei 2026 – Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) UIN Raden Mas Said Surakarta kembali menggelar diskusi dosen kedua dengan tema "Penguatan Hilirisasi Penelitian Dosen Saintek untuk Mendukung Inovasi Industri Berkelanjutan". Acara yang berlangsung di Ruang Seminar Lantai 4 Fakultas Saintek ini menghadirkan narasumber Dr. Eng. Beta Paramita, S.T., M.T., dosen Program Studi Arsitektur, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang juga merupakan pakar di bidang material dan energi bangunan rendah emisi.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Saintek UIN Surakarta, Ibu Septin Puji Astutik, Ph.D., menegaskan bahwa tema hilirisasi sangat relevan dengan visi keilmuan Saintek. Menurutnya, riset yang dilakukan dosen dan mahasiswa tidak boleh berhenti sebagai artikel jurnal atau prosiding semata.
"Penelitian kita harus berdampak. Tidak hanya berhenti di paper, tetapi juga bisa diaplikasikan langsung ke masyarakat. Hilirisasi adalah jalan untuk mewujudkan inovasi industri yang berkelanjutan," ujar Dr. Septin.
Dr. Eng. Beta Paramita, yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Pusat Unggulan Universitas Material dan Energi Bangunan Rendah Emisi serta Project Manager BeCool Indonesia, memaparkan peta ekosistem riset dan inovasi di Indonesia. Ia menyoroti bahwa kurang dari 15 persen penelitian perguruan tinggi di Indonesia mencapai tahap paten dan skala industri.
"Masih banyak perguruan tinggi yang belum berbasis riset terapan. Padahal, kolaborasi antara penghasil teknologi (universitas) dan pengguna teknologi (industri) sangat krusial," jelas dosen Program Studi Arsitektur UPI tersebut.
Dr. Beta memaparkan sejumlah keberhasilan hilirisasi yang telah dilakukannya, antara lain program BeCool dan Cool House yang telah diterapkan di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Barat. Teknologi bangunan rendah emisi ini terbukti menurunkan suhu ruang, mengurangi efek urban heat island (UHI), serta meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim tropis.
Dari sisi komersialisasi, inovasi yang dikembangkan Dr. Beta telah menunjukkan peningkatan nilai kolaborasi yang signifikan: dari 125.000 USD (2019–2022) menjadi 750.000 USD (2022–2025). Pada 2025–2026, hibah yang diperoleh mencapai 500.000 USD. Harga bangunan hasil inovasi pun tercatat kompetitif, yaitu sekitar 3,5 juta rupiah per meter persegi.
Acara diskusi yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 11.00 WIB ini diikuti oleh puluhan dosen dan peneliti di lingkungan Fakultas Saintek UIN Surakarta. Para peserta antusias menggali strategi membangun kolaborasi dengan mitra industri dan pemerintah daerah, seperti yang dicontohkan narasumber bersama Dinas Perindustrian (Disperkin) Jawa Barat serta Climateworks Foundation.

FoodTech Mini Conference 2026: Melatih Mahasiswa Menjadi Presenter Akademik yang Profesional
1 pekan yang lalu - Umum