Yogyakarta, 20 Agustus 2026 — Program International Food Technology Course 2026 menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, bertukar pengetahuan, serta mengenal keberagaman pangan dan budaya Indonesia dan Malaysia. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, pada 18–20 Agustus 2026, ini diikuti oleh mahasiswa dari empat perguruan tinggi, yaitu Universitas Ahmad Dahlan (UAD), UIN Raden Mas Said Surakarta, Universitas Muhammadiyah Bandung, dan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia. Dua mahasiswa dari UIN Raden Mas Said Surakarta yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah Dimas Aditiya (257211001) dan Nurin Hayyah Hamdini (247211043) dari Program Studi Teknologi Pangan. 
Kegiatan ini menghadirkan berbagai rangkaian aktivitas yang berkaitan dengan teknologi pangan sekaligus menjadi ruang interaksi bagi mahasiswa dari dalam dan luar negeri. Melalui sharing session, praktik pengolahan pangan, kunjungan industri, hingga pengenalan budaya, peserta memperoleh pengalaman untuk belajar secara langsung sekaligus membangun relasi internasional.
Pada hari pertama, Selasa (18/8), kegiatan diawali dengan sharing session mengenai animal-based local food dari Indonesia dan Malaysia. Empat kelompok berkesempatan memperkenalkan produk pangan lokal masing-masing. Tiga kelompok dari Malaysia mempresentasikan Bak Kwa, Keropok Lekor, dan Laksa Penang, sedangkan kelompok dari Indonesia memperkenalkan Sate Bandeng. Bak Kwa merupakan olahan daging yang dibumbui dan dipanggang dengan cita rasa manis dan gurih. Keropok Lekor merupakan makanan khas Malaysia berbahan dasar ikan dan tepung sagu dengan tekstur kenyal. Sementara itu, Laksa Penang merupakan hidangan mi dengan kuah berbahan dasar ikan yang memiliki cita rasa asam, pedas, dan gurih. Dari Indonesia, Sate Bandeng diperkenalkan sebagai makanan khas Banten berbahan dasar ikan bandeng yang diolah bersama bumbu kemudian dipanggang. 
Setelah kegiatan presentasi, peserta mengikuti praktik pengolahan pangan berupa pembuatan sosis ikan tuna. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempraktikkan secara langsung proses pengolahan produk pangan berbasis hasil perikanan.
Rangkaian hari pertama kemudian dilanjutkan pada malam hari melalui kegiatan Culture Night. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk saling mengenal lebih dekat dengan berbagi cerita, pengalaman, dan budaya dari negara maupun daerah masing-masing. Suasana kebersamaan semakin terasa melalui berbagai aktivitas bersama yang kemudian ditutup dengan kegiatan tukar kado sebagai bentuk kenang-kenangan dan harapan agar pengalaman serta hubungan yang telah terjalin dapat terus diingat.
Pada hari kedua, Rabu (19/8), peserta melakukan kunjungan industri ke Bakpia Menuk, Yogyakarta. Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung seluruh tahapan proses pembuatan bakpia, mulai dari persiapan bahan, proses pengolahan, pemanggangan, hingga pengemasan. Selain melihat proses produksi, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai sejarah singkat berdirinya dan perkembangan Bakpia Menuk yang disampaikan oleh Ibu Atiek Nurhayati, S.Kom selaku pemilik toko bakpia menuk. Selanjutnya, peserta berkesempatan untuk mempraktikkan secara langsung proses pembuatan bakpia. 
Pada siang harinya, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke kawasan Malioboro. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya Yogyakarta kepada mahasiswa internasional. Peserta diajak mengenal berbagai aspek budaya lokal, mulai dari kesenian dan alat musik tradisional hingga beragam makanan khas yang menjadi bagian dari kekayaan kuliner Yogyakarta.
Memasuki hari ketiga, Kamis (20/8), peserta melakukan kunjungan ke industri pengolahan susu kambing. Dalam kegiatan tersebut, peserta melihat secara langsung rangkaian proses pengolahan susu kambing hingga tahap pengemasan. Kunjungan ini memberikan wawasan mengenai penerapan teknologi pangan dalam mengolah bahan pangan asal hewan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.